INDUSTRI, IPTEK DAN PENDIDIKAN

You are not logged in
You are here: home  -  presentation  -  show presentation
Login
email

Password

 
I forgot my password.
please send me a new one.

December 2014
sun mon tue wed thu fri sat
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31
nov  |  jan

Google Search

INDUSTRI, IPTEK DAN PENDIDIKAN
creator: Rahardi Ramelan
category: Papers
create date: 2004-08-26
user group:
role: all
Show Topic

INDUSTRI, IPTEK DAN PENDIDIKAN


INDUSTRIALISASI, PENGUASAAN IPTEK, PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Oleh

Rahardi Ramelan

Wakil Ketua Bappenas

Disampaikan dalam:

Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Jakarta, 22 Mei 1996

PENDAHULUAN

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat llaahi Rabbi, Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan perkenan-Nyalah kita semua dapat mengikuti acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kali ini. Saya yakin bahwa Rakernas ini merupakan forum untuk melakukan evaluasi atas berbagai upaya pembangunan pendidikan dan kebudayaan yang telah kita lakukan selama ini berikut hasil yang telah dicapai sampai saat ini, dan pada gilirannya dapat dirumuskan berbagai kebijaksanaan dan program yang lebih tajam, efektif, dan efisien. Dengan semangat seperti intu, insya Allah, kinerja sistem

pendidikan dan kebudayaan nasional kita dapat terus dilingkalkan multunya.

Peningkatan mutu kinerja sistem pendidikan dan kebudayaan nasional makin penting dan strategis dalam menyongsong era globalisasi yang dewasa ini telah makin menguat arusnya dan akan sangat besar pengaruhnya terhadap berbagai aspek kehidupan manusia dan bangsa Indonesia. Perkembangan yang terjadi di dunia internasional baik dalam bidang ekonomi, politika maupun sosial budaya menuntut kita untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia agar lebih siap, tanggap, dan tangguh menghadapinya.

Dalam globalisasi ekonomi, perekonomian dunia tidak akan lagi mengenal batas-batas negara dan bahkan peranan negara diramalkan akan semakin berkurang. Arus globalisasi ekonomi dipercepat oleh kemajuan teknologi yang makin pesat khususnya di bidang transportasi, telekomunikasi dan informasi yang memungkan arus orang, barang, jasa, dan informasi bergerak dengan lebih cepat, dalam jumlah yang semakin besar, dengan kualitas yang semakin baik, dan dengan biaya yang semakin murah. Persaingan antar bangsa dalam memproduksi barang dan jasa akan semakin kuat dan ketat. Kemajuan teknologi itu pulalah yang akan makin mempercepat proses globalisasi di berbagai bidang kehidupan manusia. Dengan demikian, maka penguasaan iptek dari suatu bangsa yang akan menentukan keberhasilan bangsa itu menghadapi globalisasi dalam bidang ekonomi dan bidang kehidupan lainnya.

Memasuki era globalisasi, dalam PJP ll kita bertekad untuk membangun bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera lahir-batin.pertumbuhan ekonomi diharapkan melaju dengan cukup tinggi, sehingga memerlukan upaya untuk mempercepat proses industrialisasi. Dalam kaitan ini pulalah, maka penguasaan iptek sangat diperlukan, karena industrialisasi hanya mungkin berlangsung dengan dorongan iptek. Oleh karena itu, tak pelak lagi bahwa dalam menyongsong era globalisasi pembangunan sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan suatu tuntutan yang penting dan mendesak. Dalam kaitan inilah pembangunan pendidikan dan kebudayaan menduduki peran yang strategis.

PENTINGNYA INVESTASI SUMBERDAYA MANUSIA

Indonesia bersama negara-negara berkembang lainnya di kawasan Asia Timur telaH meNcatat prestasi pembangunan yang sangat mengesankan dan bahkan penuh keajaiban (World Bank, 1993. The East Asian Mirade). Indonesia bersama Malaysia dan Thailand, serta Empat Macan Asia (Hongkong, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan) dikategorikan sebagai Negara Industri Baru (Newly Industrialized Countries). Bahkan Jepang telah tergolong sebagai negara maju. Delapan negara Asia yang dikenal dengan High Performing Asian Economies (HPAE,) tersebut telah berhasil mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang mantap yang disertai dengan pemerataan pendapatan yang lebih merata selama 25 tahun sejak 1965. Sementara rata-rata pertumbuhan ekonomi di berbagai negara lain menunjukkan kecenderungan menurun, pertumbuhan ekonomi rata-rata dari delapan negara tersebut bertahan cukup tinggi pada angka sekitar 5,5% dalam kurun waktu tersebut. Yang lebih mengesankan lagi adalah tingkat pertumbuhan yang tinggi sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan penduduk dari negara-negara HPAE itu disertai pula dengan tingkat pemerataan yang semakin baik.

Apakah kunci keajaiban negara HPAE tersebut ? Walaupun berbeda variasi dan versinya, kunci keajaibannya terletak pada kemampuan untuk menciptakan dan menggerakkan investasi dan meningkatkan produktivitas rnelalui penciptaan investasi kapital fisik dan investasi modal sumberdaya manusia yang memadai. Dalam hal ini jelas terbukti bahwa pendidikan sebagai suatu bentuk pembangunan sumberdaya manusia mempunyai peranan yang bermakna terhadap pertumbuhan ekonomi yang sustainable karena disertai dengan pemerataan dari suatu negara .

Apakah Indonesia yang telah mencatat preslasi pembangunan yang mengesankan dalam PJP I sehingga tergolong sebagai negara industri baru itu mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan laju pertumbuhan dengan cukup tinggi serta pemerataan yang lebih baik dalam 25 tahun mendatang. Hal itu akan sangat tergantung pada kemampuan untuk

meningkatkan produktivitas faktor-faktor produksinya secara keseluruhan

(total factor productivity atau TFP). Peningkatan TFP, pada gilirannya, erat

berkaitan dengan kemajuan teknologi di berbagai bidang kegiatan terutama

dalam teknologi industri.

INDUSTRIALISASI DAN TRANSFORMASI TEKNOLOGI

Prestasi pembangunan nasional yang telah kita capai dalam PJP I nampaknya tidak terlepas dari proses industrialisasi yang berlangsung dalam kurun waktu itu. Sumbangan sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat tajam. Pertumbuhan industri tersebut mendorong terjadinya transformasi ekonomi dari dominasi sektor pertanian beralih ke dominasi sektor industri. Pada tahun 1971 sumbangan sektor pertanian terhadap PDB adalah sekitar 34% dan pada tahun 1992 menurun menjadi 19%, sedangkan sektor industri meningkat dari 6,2% pada menjadi 2 l %; tahun 1994 meningkat lagi menjadi 23%.

Transformasi struktur ekonomi tersebut pada gilirannya sangat menentukan terjadinya pergeseran akan kebutuhan tenaga kerja dari keterampilan rendah ke keterampilan lebih tinggi. Dalam dunia yang semakin ketat persaingannya, industri yang tumbuh tidak lagi industri yang mengandalkan tenaga kerja berketrampilan rendah dan murah. Sektor pertanian yang walaupun peranannya terhadap PDB akan semakin menurun namun karena kualitas produknyadituntut semakin tinggi sehingga diperlukan tingkat teknologi yang tinggi pula, maka tenaga kerja yang, berkiprah di dalamnya harus mempunyai tingkat keterampilan yang lebih tinggi. Tingkat keterampilan yang lebih tinggi akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, sehingga pada gilirannya akan meningkatkan daya saing yang lebih tinggi pula. Pentingnya peningkatan keterampilan tenaga kerja dalam rangka peningkatan kualitas sumberdaya manusia di masa mendatang sejalan dengan perkembangan yang akan berlangsung dalam proses indutrialisasi di negara kita.

Perkembangan industri yang berlangsung di masa datang harus lebih cepat daripada perkembangan selama ini. Hal ini berkaitan erat dengan proses transformasi teknologi, yang harus berlangsung dengan cepat dan tepat jika kita ingin mempercepat proses indutrialisasi dalam upaya membangun bangsa yang maju dan mandiri, sejahtera lahir-batin.

Marilah sejenak kita simak perkembangan industri dan kemajuan

teknologi untuk menunjukkan betapa pentingnya pendidikan dan pembudayan

teknologi. Ada beberapa tahap perkembangan teknologi yang dilalui oleh

negara berkembang.

Tahap yang paling awal pada umumnya adalah tahap adopsi teknologi yaitu menggunakan jenis teknologi yang ''dipinjam'' dari negara lain penghasil teknologi ltu (negara maju). Tahap kedua adalah imitasi atau peniruan terhadap jenis teknologi yang ada dan langsung menggunakannya dalam proses produksi. Tahap imitasi ini dapat pula berupa modifikasi yaitu dengan melakukan penyesuaian atau perobahan terhadap teknologi yang sudah ada sebelum diterapkan dalam proses produksi. Tahap yang paling maju adalalah tahap inovasi yaitu menciptakan sualu jenis teknologi yang betul-betul baru. Di .bawah tahap inovasi ini ada dikenal tahap inovasi-imitatif yaitu menciptakan sesuatu jenis teknologi yang "baru" dari teknologi yang sebenarnya sudah ada namun belum dikenali.

Untuk sampai pada tahap inovasi itu begitu sulit dan memerlukan waktu dan proses yang panjang. Kenyataan empirik menunjukkan bahwa negara berkembang dapat tumbuh pesat dengan cara meminjam atau mengadopsi teknologi. Jepang, misamya, sangat berhasil dalam meminjam (mengadopsi) dan meniru (imitasi) teknologi negara maju. Demikian pula halnya dengan Taiwan. Kedua negara itu sangat pandai memanfaatkan teknologi yang mereka pinjam atau mereka tiru.

Kepandaian semacam ini jelas tidak datang "ujug-ujug' dari langit, namun dengan bekal modal dasar ilmu pengetahuan dan ketekunan yang kuat. Ada tiga hal yang diperlukan agar penggunaan teknologi secara adopsi alau imitasi itu berdaya ungkit kuat terhadap industrialiasi yaitu informasi yang lengkap dan rinci mengenai teknologi itu, alat atau wahana dan sarana untuk menerapkan teknologi itu, dan pemahaman (understanding) mengenai teknologi tersebut. Dengan demikian, dalam melakukan proses adopsi teknologi tidak hanya sekedar menerapkannya sebagai masukan dalam proses produksi, tetapi melibatkan suatu proses kelembagaan (institusionalisasi) yang terarah. Di dalamnya ada proses pendidikan dan pembudayaan teknologi.

Bagairnana hamya dengan perkembangan industri dan transformasi teknologi di Indonesia? Habibie dalam bukunya "IImu Pengetahuan Teknologi , dan Pembangunan

Bangsa", tahun 1994, menyatakan bahwa ada empat tahap tranformasi teknologi yang berlangsung secara simultan (tumpang tindih) di Indonesia. Tahap pertama, adalah tahap lisensi yaitu penggunaan teknologi melalui produk lisensi dengan memanfaatkan teknologi produksi dan manajemen yang telah tersedia bagi produk yang telah ada di pasaran. Tahap kedua adalah integrasi teknologi yang sudah ada untuk memproduksi produk baru

yang belum ada di pasaran. Tahap ketiga adalah pengembangan teknologi yang sudah ada untuk mendapatkan suatu teknologi baru. Tahap keempat adalah tahap penelitian dasar guna mendukung pelaksanaan tahap ketiga untuk memertahankan keunggulan teknologi yang sudah tercapai. Dewasa ini, nampaknya perkembangan industri di negara kita masih didominasi oleh tahap lisensi. Bahkan, seringkali hal ini tidak diimbangi dengan komponen lokal yang memadai.

Jika kita tidak waspada, dalam perekonomian yang makin bebas dan terbuka, industri kita akan makin didominasi oleh teknologi dan produk lisensi dari negara-negara maju. Pada gilirannya bangsa kita akan menjadi "budak" teknologi negara lain karena ketergantungan kita terhadap teknologi luar itu makin besar. Untuk menghindari malapetaka itu, tidak pelak lagi kita harus membangun manusia-manusia yang pandai mengembangkan teknologi. Cita-cita kita, janganlah hanya terbatas pada membangun kemampuan adopsi atau imitasi teknologi, tetapi harus sampai pada kemampuan inovasi. Dalam kaitan inilah, maka lagi-lagi pendidikan menduduki peranan yang sangat penting dan strategis.

STRATEGI PENGUASAAN IPTEK MELALUI PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Kemajuan teknologi hanya mungkin dicapai melalui kemajuan dalam ilmu pengetahuan karena teknologi merupakan produk aplikatif dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri tidak mungkin terwujud tanpa adanya critical mass sumberdaya manusia berkualitas. Tarap pendidikan jelas merupakan modal utama terbentuknya sumberdaya manusia berkualitas. Kebijaksanaan kita untuk meningkatkan tarap pendidikan penduduk minimal lulus SLTP melalui program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun merupakan suatu langkah strategis. Tentunya kebijaksanaan tersebut harus diikuti pula dengan kebijaksanaan lain yang mengarah kepada pembentukan sumberdaya manusia yang mampu mengembangkan dan menguasai iptek agar bangsa kita tidak tertinggal oleh bangsa-bangsa lain dalam era globalisasi yang ditandai dengan persaingan yang ketat dalam berbagai aspek kehidupan

Menumbuh-kembangkan Budaya Iptek

Dari berbagai pengalaman empirik, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kinerja pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusia, yang antara lain dicirikan dengan penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi sangat berperanan dalam pemanfaatan dan pendayagunaan seluruh faktor produksi baik modal dan sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia itu sendiri. Tingkat penguasaan teknologi menentukan pula tingkat kemajuan suatu bangsa, dan pada gilirannya menentukan tingkat peradaban.

Penguasaan teknologi berkaitan erat dengan penguasaan ilmu pengetahuan, sehingga keduanya seringkali diucapkan dalam satu nafas, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).Sebenarnya tidaklah semua jenis dan cabang ilmu pengetahuan selalu menghasilkan teknologi. Dalam hal kita berbicara mengenai iptek, janganlah punya anggapan bahwa suatu cabang ilmu pengetahuan yang tidak berkaitan dengan teknologi itu tidak penting. Cabang ilmu humaniora, misalnya, tidak menghasilkan suatu teknologi, karena pengembangan cabang ilmu tersebut memang tidak dimaksudkanuntuk itu. Namun, ia tetap penting, karena dimensi manusia dan dimensi kehidupan tidaklah terbatas pada kebutuhan akan perangkat keras teknologi, tetapi jauh lebih luas dari itu. Bahkan dalam dunia industrialisasi yang semakin kental, manusia akan semakin membutuhkan dimensi kemanusiaan yang bernuansa etika, estetika, moral, dan kejiwaan. Jadi, kalau saya berbicara tentang iptek dalam arti yang spesifik dalam kaitannya dengan proses industrialiasi, tidaklah berarti saya mengesampingkan pentingnya ilmu pengetahuan dalam arti yang luas.

Marilah kita kembali kepada pokok bahasan semula mengenai penguasaan iptek, yang akan saya tekankan pada budaya iptek. Budaya saya artikan sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku yang melembaga atau mendarah-daging dalam diri seseorang. Dengan demikian, maka budaya iptek adalah suatu cara pandang. sikap, dan perilaku yang didasari dengan wawasan dan kemampuan iptek yang mendarah-daging dalam diri seseorang.

Ciri yang menonjol dari seseorang yang berbudaya iptek antara lain:

selalu terdorong untuk bertanya dan mencari tahu serta menggali rahasia alam, karena alam adalah sumber ilmu pengetahuan; berfikir logis dan rasional; menjunjung tinggi mutu dan keunggulan; dan selalu cenderung kepada kebenaran, karena ilmu pengetahuan hanya mungkin dibangkitkan dan dikembangkan atas dasar kebenaran serta sadar bahwa kebenaran ilmu itu sendiri tidaklah bersifat multak (absolut) dan abadi; menghargai kerja keras dan tidak memandang rendah kerja kasar, karena dari setiap kerja itu akan selalu dihasilkan suatu karya; dan mengutamakan profesionalisme.

Budaya iptek itu harus ditumbuh-kembangkan sejak usia dini dalam diri seorang manusia. Kaitannnya dengan pendidikan, Ginanjar Kartasasmita mengumpamakan penanaman budaya seperti itu seperti sebuah corong; makin tinggi tarap pendidikan, harus makin deras dialirkan, sehingga pada pendidikan tinggi puncaknya harus tercapai. Proses pendidikan seperti itu akan menghasilkan insan-insan yang tidak hanya sekedar menyandang gelar sarjana, tetapi insan-insan yang bersemangat ilmiah, kreatif, dan selalu mencari kesempurnaan (unending search for exellence). Manusia-manusia seperti itulah yang akan menjadi penggerak pembangunan yang andal.

Keberhasilan dari proses pendidikan yang bertujuan mewujudkan manusia berbudaya iptek akan sangat ditentukan oleh semangat dan gairah belajar yang harus ditumbuh-kembangkan oleh setiap pendidik. Anak didik harus didorong untuk selalu bertanya agar tumbuh sikap kreatif, karena kreativitas merupakan modal utama untuk melakukan suatu inovasi, dan inovasi adalah sumber penguasaan teknologi.

Dalam hal upaya menumbuh-kembangkan budaya iptek sejak dini, bekal dasar yang harus dikuasai anak didik dengan baik adalah penguasaannya terhadap bidang ilmu sains, matematika, dan bahasa. Kita mengamati bahwa penguasaan ketiga materi itu masih lemah di kalangan anak didik kita. Kelemahan tersebut harus segera kita alasi, dengan cara utamanya menciptakan gairah dan semangat untuk mempelajari bidang ilmu yang sering dianggap sulit itu. Anak didik akan tertarik jika ilmu hayat, misamya, diajarkan dengan menunjukkan bagaimana hewan dan tanaman tumbuh dan berkembang di alam. Matematika diajarkan dengan menghitung berapa jumlah butir padi yang ada pada satu rumpun. Kemampuan bahasa diajarkan dengan berceritera tentang hikayat-hikayat yang menarik dan bernuansa moral.

Budaya iptek juga sekaligus dapat ditumbuh-kembangkan sejak dini pada anak-anak sekolah dasar bersamaan dengan pada saat kita melestarikan nilai-nilai luhur budaya kita. Betapa tingginya peradaban dan muatan iptek pada candi-candi peninggalan sejarah seperti Borobudur dan Prambanan. Dan sebagainya, yang saya yakin para pendidik lebih tahu dan menguasai metode-metode yang menarik dan membangkitkan semangat berlajar guna menumbuh-kembangkan budaya iptek itu.

MEMBANGUN PROFESIONALISME DAN KEUNGGULAN

Profesionalisme dan keunggulan merupakan kata kunci yang perlu terus kita dengungkan dalam upaya kita membangun sumberdaya manusia yang berkualitas menyongsong era industrialisasi dan globalisasi. Keduanya, lagi-lagi, tidak mungkin diwujudkan tanpa penguasaan iptek.

Dalam dunia yang berkembang pesat dewasa ini dan di masa mendatang, untuk membangun profesionalisme yang andal diperlukan muatan iptek yang senantiasa baru. Dunia pendidikan pada gilirannya dituntut pula untuk selalu mengantisipasi berbagai perubahan dan perkembangan yang terjadi itu. Masalah yang seringkali kita hadapi adalah kecepatan perkembangan yang terjadi di dunia pendidikan selalu Iebih lambat dari kecepatan perkembangan yang terjadi di dunia industri dan dunia luar pendidikan lainnya. Memang demikianlah sifat dasar dari dunia pendidikan.Menyadari karakteristik seperti itu, langkah yang perlu kita tempuh bukanlah dengan serta-merta merubah kurikulum agar lebih terkait dengan kebutuhan sesaat. Saya yakin, bahwa konsep keterkaitan dan kesepadanan (link and match) yang dicanangkan Mendikbud juga tidak diartikan sesempit itu.

Keterkaitan dan kesepadanan antara dunia pendidikan dengan dunia industri dan dunia usaha lainya serta perkembangan tuntutan pembangunan perlu diartikan dan dijabarkan dengan seksama. Menurut hemat saya adalah dengan cara memberikan bekal ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik untuk siap berkembang dan dalam waktu relatif singkat mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Jika keterkaitan dan kesepadanan dengan dunia industri ingin ditingkatkan, materi kurikulum yang dirancang bukanlah kurikulum industri dalam arti hanya sekedar mengajarkan teknik-teknik yang ada dan pada saat sekarang dibutuhkan oleh industri. Mengapa? Karena bukannya tidak mungkin besok-lusa teknologi yang sekarang ada itu berubah. Contoh konkrit adalah teknologi komputer yang demikian cepat berkembang dan berubah. Materi kurikulum yang perlu diberikan kepada anak didik adalah materi dasar yang membangun kemajuan iptek, bukan tingkat iptek yang sekarang sedang digunakan. Dengan cara seperti itu, konsep keterkaitan dan kesepadanan akan dapat diterapkan (implemlentable) dan lestari (sustainable)

Berdasarkan kerangka pikir tersebutt, ada beberapa program pendidikan yang cukup menjanjikan untuk mewujudkan keterkaitan dan kesepadan dan sekaligus untuk membangun keunggulan dan profesionalisme. Program "CO-OP", misalnya, dapat dirintis dan dikembangkan terutama untuk jenjang pendidikan tinggi terutama politeknik. Melalui program "CO-OP" ini anak didik dilatih untuk menghayati kehidupan di dunia industri, dididik untuk memelihara dan meningkatkan etos kerja dan produktivitas, serta mengembangkan profesionalisme. Bagi jenjang pendidikan menengah kejuruan di SMK, pada prinsipnya program "CO-OP" pun dapat diterapkan dengan menyesuaikan tingkat keterampilan yang ditentukan.

Dalam menerapkan konsep keunggulan dan profesionalisme melalui pendidikan di sekolah seringkali kita menghadapi masalah kurang tersedianya tenaga pendidik yang mumpuni dan mampu mengikuti perkembangan yang terjadi dengan pesat. Dalam hal ini, program penyegaran melalui pelatihan jangka pendek 8-12 minggu (short course) atau semacam contemporer technology course perlu digalakkan. Dalam pada itu, kegiatan re-orientasi bagi para pendidik atau instruktur perlu juga dibiasakan. Kegiatan re orientasi ini tidak harus dilakukan melalui pelatihan, tetapi juga dapat dipenuhi dengan cara mendapatkan bahan-bahan atau materi baru dari jurnal atau majalah ilmiah berkala. Dalam konteks inilah, maka perpustakaan dan sumberdaya informasi memegang peranan yang sangat penting.

Keunggulan dari setiap jenis produk berupa barang dan jasa merupakan kunci bagi keberhasilan di dunia yang persaingannya semakin ketat. Untuk itu keunggulan iptek harus terus diupayakan, ditingkatkan, dan dikembangkan. Dalam kaitan inilah, kegiatan penelitian sepatutnya dilakukan tanpa henti-hentinya, karena penelitian merupakan jantung

pengembangan iptek. Kebijaksanaan dan program penelitian bernuansa keunggulan telah dirintis dan dikembangkan terutama sejak akhir Repelita X, antara lain melalui program Hibah Bersaing, Riset Ungulan Terpadu (RUT), dan Riset Ungulan Kemitraan (RUK). Melalui paket-paket penelitian seperti itu para peneliti di perguruan tinggi dan lembaga penelitian departemen dan non-departemen mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengembangkan kemampuan dalam melakukan penelitian terutama untuk menghasilkan produk-produk unggulan.

Sementara itu, disadari pula bahwa masih banyak tenaga-tenaga muda di perguruan tinggi yang belum mempunyai kemampuan meneliti secara memadai. Di lain pihak, untuk menjamin agar bangsa kita berhasil memasuki era globalisasi, diperlukan critical mass sumberdaya peneliti yang andal. Kebijaksanaan yang ditempuh untuk itu adalah dengan menyediakan paket Penelitian Pembibitan yang terutama ditujukan untuk para dosen muda di perguruan tinggi yang kemampuan penelitiannya masih rendah. (pada awalnya paket penelitian ini diperkenalkan dengan istilah Riset Dosen Tertinggal, karena ditujukan untuk membantu para dosen yang kemampuan menelitinya masih rendah Pembibitan ini dipersiapkan pada tahun 1995 dan mulai dilancarkan pada tahun 1996 ini, bertepatan dengan berakhirnya paket penelitian yang dikenal dengan nama Penelitian Berbagai Bidang (BBl) yang dibiayai dengan pinjaman Bank Dunia. Dengan demikian, maka dapatlah dikatakan bahwa

program penelitian dalam rangka membangtun keunggulan dapat kita

laksanakan secara lestari.

PENUTUP

Dermikianlah beberapa pokok pikiran yang dapat saya sampaikan dalam forum Rakernas ini. Saya merasa, masih banyak hal-hal penting yang belum saya ungkap dan sajikan, namun karena keterbatasan waktu jualah yang membatasinya. Dalam Seminar Nasional Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 13 Mei yang baru lalu, saya berkesempatan pula menyampaikan beberapa pokok pemikiran yang menurut hemat saya penting untuk disimak dalam upaya kita meningkatkan mutu kinerja sistem pendidikan dan kebudayaan nasional kita. Pada kesempatan tersebut, saya mengungkap sisi lain dari wajah pendidikan dan kebudayaan kita, dengan maksud menggugah semua pihak, tidak hanya instansi Depdikbud, betapa penting dan mendesaknya upaya peningkatan mutu sistem pendidikan dan kebudayaan itu dilakukan secara holistik. Silakan disimak.

Selamat bekerja, semoga Allah swt senantiasa membimbing kita dan memberi kekuatan kepada kita dalam menunaikan tugas khususnya di bidang pendidikan dan kebudayaan


add comment

webmaster