|
| September 2010
|
| sun |
mon |
tue |
wed |
thu |
fri |
sat |
|
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
| 5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
| 12 |
13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
| 19 |
20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
| 26 |
27 |
28 |
29 |
30 |
|
aug
|
oct
|
|
KEDELAI DAN PASAR BERJANGKA
creator: Rahardi Ramelan
category: Opini
create date: 2008-01-31
user group:
role: all
|
KEDELAI DAN PASAR BERJANGKA
Oleh: Rahardi Ramelan
Guru Besar ITS, Surabaya
Naiknya harga kedelai lebih dari dua kali akhir-akhir ini, telah menganggu tatanan kehidupan kalangan masyarakat kelas rendah. Masayarakat tempe. Bukan hanya konsumen yang mengeluh, tetapi produsen tahu dan tempepun terpukul dengan meroketnya harga kedelai. Setelah para produsen tahu-tempe mengadakan demontrasi besar-besaran didepan istana, baru pemerintah mendadak mengadakan rapat dan pertemuan. Memang aneh. Sebetulnya harga kedelai sudah merayap naik sejak beberapa bulan, tapi semuanya diam-diam saja. Kebutuhan kedelai didalam negeri jauh lebih besar dari kemampuan produksi, pemerintahpun menyadari itu dan akan tergantung dari impor. Setelah berbagai rapat digelar, pemerintahpun berjanji lagi akan menaikkan produksi kedelai, mengurangi berbagai jenis pajak dan pungutan. Konsumen harus diamanka, petani produsen harus dilindungi dan dibina.
Demikian juga yang terjadi dengan harga terigu yang sudah mulai merambat naik sejak awal 2007, semuanya juga diam, dan baru sekarang heboh. Setelah banyak IKM roti mulai mengeluh, baru pemerintah mulai bereaksi. Harga terigu ditentukan oleh harga gandum, tetapi tidak ada petani produsen gandum di negara kita, yang ada adalah industri tepung terigu didalam negeri yang mendominasi pasar. Seluruh gandum diimpor. Pintu impor tepung terigu dibuka untuk jadi faktor penyeimbang. Dengan dibukanya impor, muncul masalah lain seperti dumping dan under invoice, sehingga harga terigu imporpun jadi jauh lebih murah dari produksi dalam negeri. Tidak ada petaninya, jadi siapa yang harus diproteksi?
Pemerintahpun sampai sekarang belum bisa mengatasi tingginya harga minyak goreng, walaupun sudah ada intervensi pasar. Demikian juga dengan beras, yaitu komoditi yang dikendalikan oleh pemerintah, berbagai intervensi pasar telah dilakukan, tetapi harganya tetap bertengger stabil tinggi.
Pasar Berjangka
Dengan digalakkannya pemakaian bio-energi, sebagai antisipasi pemanasan global, menimbulkan persaingan antara kebutuhan energi dan pangan. Harga beberapa komoditi seperti kedelai, jagung, minyak sawit dan gula ditentukan oleh gerakkan harga pangan dan energi. Sedangkan kita telah melepaskan komoditi utama pangan, seperti gula, minyak sawit, kedelai, kepada ekonomi pasar. Saat melambungnya harga seperti sekarang ini, pemerintahpun jadi kebingungan apa yang harus dilakukan untuk menghadapinya. Kalau produksi dalam negeri hanya sekitar 40-60 persen dari kebutuhan, seperti gula dan kedelai, muncul pertanyaan siapa yang lebih utama dilindungi: konsumen atau produsen.
Fluktuasi harga komoditi pertanian didunia tidak dapat dihindarkan, banyak faktor yang mempengaruhinya. Untuk menghadapi dan mengurangi dampak negatif dari gejolak harga ini, perlu memanfaatkan berbagai perangkat pasar seperti lelang forward, resi gudang dan future trading.
Tetapi apakah pedagang dan pemerintah memanfaatkan perangkat pasar yang telah kita miliki? Pasar lelang, termasuk lelang forward, komoditi agro sudah ada di 17 tempat. Sejak tahun 1999 Perdagangan Berjangka Komoditi sudah dimulai di Bursa Berjangka Jakarta, dan sejak tahun 2001 sudah 21 komoditi yang diijinkan diperdangkan di BBJ, termasuk minyak sawit, gula dan kedelai. Pengaturan mengenai Resi Gudang, yang merupakan bagian tidak terpisah dari lindung nilai komoditi, telah ada sejak tahun 2006. Tetapi lembaga dan perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk menjaga kestabilan harga bahan pokok pangan, tidak memanfaatkan perangkat pasar tersebut diatas. Komoditi pertanian seperti beras, kedelai, gula dan gandum didunia, dipejual-belikan di pusat-pusat perdagangan komoditi berjangka atau future trading. Komoditi tersebut sudah berada di tangan para trader jauh sebelum panen. Jadi, kalau tiba-tiba Perum Bulog atau PT Perusahaan Perdagangan Indonesia Persero (PT PPI), ditugaskan untuk mengimpor kedelai atau gula, tentu akan dibeli dan diimpor dari spot market dan dari trader. Jadi apa susahnya?
Tanpa mengurangi pentingnya upaya peningkatan produksi dalam negeri, maka untuk komoditi pangan strategis yang komponen impornya masih tinggi seperti gandum, gula, dan kedelai, seharusnya pemerintah juga memanfaatkan pasar berjangka, dan menunjuk perusahaan niaga BUMN, seperti PT PP Indonesia dan Perum Bulog, untuk menjadi Commodity Future Trader, sehingga kita tidak selalu harus melakukan impor dari pasar spot pada waktu harga tinggi. Dengan perubahan iklim yang sukar diprediksi, maka demi pengamanan ketersediaan dan harganya, juga beras perlu dimasukkan kedalam kebijakan tersebut.-
Dikirim ulang ke Media Indonesia 29.1.2008
|
|
|
|
add comment
|
|